Menemukan kehidupan melalui tuntunan persahabatan, pengalaman dan kebersamaan! tersenyumlah kepada semua orang dan rasakan kekuatannya! melangkah bersama dalam keceriaan adalah kunci menemukan kebahagiaan yang sejati. Temukanlah bersama, ...... Tantry Dian Karenawaty
Rabu, 27 Oktober 2010
Aspartam
Aspartam[1]
Nama kimia N-(L-α-Aspartyl)-L-phenylalanine,
1-methyl ester
Nama lain NutraSweet
Canderel
Equal Rumus Kimia C14H18N2O5 Massa Molekul 294.301 g/mol CAS number [22839-47-0] Titik Lebur 246-247 °C Titik didih terurai SMILES [NH3+] [C@@H](CC([O-])=O)C(N[C@@H]
(CC1=CC=CC=C1)C(OC)=O)=O Aspartam
Aspartam merupakan pemanis sintetis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanina.
Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal, Nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen. Belakangan aspartam mendapat penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan aspartam menyebabkan banyak efek negatif. Dan akhirnya, pangsa pasarnya mulai berkurang direbut oleh pemanis lain yaitu sukralosa.
Sejarah penemuan
Ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte pada tahun 1965 sebagai hasil percobaan yang gagal. Aspartam merupakan dipeptida yang dibuat dari hasil penggabungan asam aspartat dan fenilalanina. Fenilalanina merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampai pesan pada sistem saraf otak.
Sertifikasi kelayakan
Tahun 1981 aspartam mendapat persetujuan dari FDA untuk digunakan pada beberapa jenis makanan. Untuk mendapat persetujuan ini, tentu banyak penelitian ilmiah yang harus ditinjau terlebih dahulu. Setelah dinyatakan aman untuk dikonsumsi, barulah FDA mau menyetujuinya. FDA telah melakukan evaluasi terhadap pemakaian aspartam dalam makanan dan minuman sebanyak 26 kali sejak pertama kali menyetujui penggunaannya. Dan dari bukti-bukti ilmiah yang ada, maka sejak tahun 1996 FDA menyetujui penggunaan aspartam sebagai pemanis buatan yang dapat digunakan dalam semua makanan dan minuman.
Saat ini aspartam telah ada dalam berbagai bentuk, seperti cair, granular, enkapsulasi dan juga tepung. Dengan demikian, aspartam dapat digunakan dalam berbagai bentuk dan jenis makanan maupun minuman. Bentuk enkapsulasi bersifat tahan panas sehingga dapat digunakan untuk produk-produk yang memerlukan suhu tinggi dalam pembuatannya.
Setelah persetujuan diperoleh, bukan berarti tidak ada lagi penelitian lain yang dilakukan. Lebih dari 100 penelitian telah dilakukan sejak tahun 1981, dan sampai saat ini, FDA tidak merubah pendapatnya. Aspartam kini telah disetujui penggunaannya di lebih dari 100 negara termasuk Indonesia.
Sifat dan kegunaan
Kepala Laboratorium Biokimia Pangan dan Gizi IPB Prof.Dr.ir. Made Astawan MS mengatakan aspartam merupakan pemanis rendah kalori dengan kemanisan 200 kali kemanisan gula (sukrosa), sehingga untuk mencapai titik kemanisan yang sama diperlukan aspartam kurang dari satu persen sukrosa. Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis sehingga kontribusi kalorinya bisa diabaikan sehingga menyebabkan aspartam sangat populer untuk menghindari kalori dari gula.
Keunggulan aspartam yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes.
Metabolisme
Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Tetapi proses pencernaan aspartam juga seperti proses pencernaan protein lain. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh.
Dalam keadaan normal, fenilalanina diubah menjadi tirosina dan dibuang dari tubuh. Gangguan dalam proses ini (penyakitnya disebut fenilketonuria atau fenilalaninemia atau fenilpiruvat oligofrenia, disingkat PKU) menyebabkan fenilalanina tertimbun dalam darah dan dapat meracuni otak serta menyebabkan keterbelakangan mental. Penyakit ini diwariskan secara genetik, tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanina, sehingga menyebabkan kadar fenilalanina yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh.
Kedua jenis asam amino ini secara alamiah terkandung dalam berbagai makanan berprotein seperti daging, biji-bijian dan juga produk-produk susu. Namun aspartam dapat dibuat secara sintetis di laboratorium.
Keamanan
Aspartam telah dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui bahkan anak-anak. Pengecualiannya hanya satu, penderita fenilketonuria. Menurut US Food and Drug Administration (FDA), The Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA), Americam Medical association (AMA), The American Council On Sience and Health (ACSH) aspartam merupakan bahan makanan yang aman bagi kesehatan, hanya berpengaruh pada rasa manis.
Penelitian yang menggunakan aspartam secara bolus sebesar 34 mg/kg berat badan memperlihatkan bahwa walaupun hasil metabolisme aspartam dapat melewati sawar darah plasenta, jumlahnya tidak bermakna untuk sampai dapat menimbulkan gangguan saraf pada janin. Penelitian besar yang dilakukan terhadap manusia, bukan hewan tikus menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa minuman soda yang mengandung pemanis aspartam dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Aspartam dapat diurai oleh tubuh menjadi kedua asam amino tersebut dan termasuk pemanis nutritif. Hanya, aspartam tidak tahan suhu tinggi, karena pada suhu tinggi aspartam terurai menjadi senyawa yang disebut diketopiperazin yang meskipun tidak berbahaya bagi tubuh, tetapi tidak lagi manis. Karena itu, aspartam tidak dipakai dalam produk pembuat kue dan dipakai hanya untuk minuman, es krim, dan yoghurt. Jika dicerna secara normal oleh tubuh, aspartam akan menghasilkan asam aspartat dan fenilalanina. Dengan demikian, aman untuk dikonsumsi.
Fenilketonuria adalah penyakit di mana penderita tidak dapat memetabolisme fenilalanina secara baik karena tubuh tidak mempunyai enzim yang mengoksida fenilalanina menjadi tirosina dan bisa terjadi kerusakan pada otak anak. Dan karena itu perlu untuk mengontrol asupan fenilalanina yang didapatnya. Penyakit ini tidak pernah ditemukan di Indonesia, tetapi pada orang kulit putih, itupun kejadiannya hanya satu per 15.000 orang. Bukan hanya aspartam, tapi juga segala macam makanan yang mengandung fenilalanina termasuk nasi, daging dan produk susu. Karena itu, pada setiap produk yang mengandung aspartam ada tanda peringatan untuk penderita fenilketonuria bahwa produk yang dikonsumsi tersebut mengandung fenilalanina.
Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. Ukuran yang dipergunakan adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan risiko. ADI adalah tingkat yang konservatif, yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dibandingkan tingkat maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan.
Kontroversi aspartam
Belakangan ini keamanan untuk penggunaan aspartam mulai dipertanyakan oleh banyak pihak, namun sertifikasi aman yang telah dikeluarkan oleh FDA dan FSA Eropa akhirnya menyulut kontroversi. Penyelidikan lebih menyeluruh mulai banyak diusulkan untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara aspartam dan banyak efek negatif yang mungkin ditimbulkannya seperti sakit kepala, tumor otak dan limpoma.[2][3][4] Semua penemuan ini, ditambahkan kemungkinan akan kebenaran bahaya aspartam membuat masyarakat mulai berpikir ulang untuk menggunakan aspartam.[5][6]. Film dokumenter rilis tahun 2004 Sweet Misery: A Poisoned World juga menggambarkan kondisi seputar kontroversi aspartam juga.
Referensi
1. ^ Merck Index, 11th Edition, 861.
2. ^ Olney, J.W., N.B. Farber, E. Spitznagel, L.N. Robins, 1996. "Increasing Brain Tumor Rates: Is There a Link to Aspartame?" Journal of Neuropathology and Experimental Neurology, Volume 55, pages 1115-1123.
3. ^ Soffritti, Morando, et al., "First Experimental Demonstration of the Multipotential Carcinogenic Effects of Aspartame Administered in the Feed to Sprague-Dawley Rats," Environmental Health Perspectives, Volume 114(3):379-385, 2006. http://www.ehponline.org/members/2005/8711/8711.pdf
4. ^ Roberts, H.J., "Does Aspartame Cause Human Brain Cancer," Journal of Advancement in Medicine, Volume 4(4):231-241, 1991.
5. ^ GAO 1986. "Six Former HHS Employees' Involvement in Aspartame's Approval," United States General Accounting Office, GAO/HRD-86-109BR, July 1986. http://archive.gao.gov/d4t4/130780.pdf
6. ^ Gordon, Gregory, United Press International Investigation, "NutraSweet: Questions Swirl," 1987. http://www.dorway.com/upipaper.txt
BERSAMA MELAYANI TUHAN
BERSAMA MELAYANI TUHAN
I Petrus 3:9
Pendahuluan: Prinsip Pelayanan Kristen
Meningkatnya kompleksitas permasalahan sehari-hari di zaman sekarang telah mengakibatkan semakin banyak orang Kristen kehilangan arah akan tujuan akhir hidupnya. Pekerjaan sehari-hari, berbagai urusan pribadi dan keluarga semakin menguras waktu dan tenaga kita dan tanpa disadari, kita telah terjebak ke dalam pola rutinitas yang sebenarnya cenderung “individualistis”.
Apabila kita merasa bahwa berbagai kesibukan yang “individualistis” ini sudah terlalu banyak menyita waktu kita untuk memikirkan orang lain, apalagi memikirkan kondisi bangsa kita yang semakin terpuruk saat ini, lalu apakah gunanya kita di tengah bangsa dan negara ini kalau kita sudah memposisikan diri menjadi garam yang tawar?
Di dalam buku “Katekismus Singkat Westminster” yang merupakan hasil persidangan para pemimpin Protestan di Inggris pada tahun 1643-1646, ada tertulis: “What is the chief end of man? Man’s chief end is to glorify God and to enjoy Him forever”. Inilah yang harus menjadi obsesi dan tujuan akhir kehidupan orang Kristen, yakni memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya selamanya. Namun bagi seorang Kristen untuk menempuh tujuan hidup ini bukanlah hal yang mudah. Ia harus benar-benar memahami dan memiliki komitmen di dalam menerapkan prinsip-prinsip kehidupan berikut ini yang akan menjadi landasan di dalam membangun kehidupan Kristen yang terintegrasi, sehingga kita boleh tetap dapat memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya selamanya di tengah kondisi kehidupan yang semakin menyulitkan saat ini.
1. Seluruh aspek kehidupan berpusat kepada Kristus (The God- centered life)..- Kolose 3:17, 24
Dunia modern telah membentuk pola pikir kita untuk terbiasa mendikotomikan kehidupan ini antara kehidupan rohani dan kehidupan sekuler. Seringkali ketika kita mengambil keputusan untuk menerima pekerjaan, memilih sekolah, mencari pacar, menikah atau sedang menghadapi permasalahan, kita tidak melibatkan Tuhan di dalam menggumuli keputusan tersebut karena kita tidak menempatkannya sebagai bagian dari kehidupan religius kita. Urusan Tuhan hanya kita tempatkan ketika kita berada di lingkungan gereja dan persekutuan saja.
Berbeda dengan cara pandang para Reformator Kristen yang menganggap seluruh aspek kehidupan mereka harus berpusat kepada Kristus. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang sangat terobsesi pada Tuhan (God-obsessed people), baik di dalam pergumulan pribadi maupun dalam urusan publik. Mereka adalah orang-orang yang Kristus-sentris (Christocentric). Thomas Shepard menulis surat kepada anaknya yang baru masuk kuliah di Harvard untuk “Ingatlah akan tujuan akhir hidupmu, yakni untuk kembali kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya”.
Mengenai kegunaan uang, John Hooper berkata: “Uang ada untuk memuliakan Tuhan dan untuk kebaikan orang lain”. Oliver Cromwell (pemimpin persemakmuran Inggris Raya tahun 1651-1658) menuliskan surat kepada anak perempuannya yang akan segera menikah demikian: “Sayangku, jangan biarkan apa pun membuatmu kehilangan rasa cintamu kepada Kristus… dimana cinta yang paling berharga yang kau miliki atas suamimu adalah gambar dan rupa Kristus di dalam dirinya. Pandanglah itu dan cintailah dengan sebaik mungkin, dan semua hal lainnya demi cinta itu”. Seluruh pengalaman kehidupan yang dialami oleh para Reformator Kristen, selalu mereka kaitkan dengan Tuhan, baik itu perkara-perkara kecil maupun yang besar, dan mereka meyakini sekali bahwa semua keputusan hidup mereka harus bermuara untuk kemuliaan Tuhan.
2. Menggunakan apa yang ada pada kita – I Korintus 12-13
a. Seluruh aspek kehidupan adalah milik Tuhan (All of Life is God’s).
Konsep kehidupan modern yang mendikotomikan antara dunia rohani dan sekuler, membuat seolah-olah Tuhan hanya hadir di dunia rohani yang “suci” dan tidak hadir di dunia sekuler yang “tidak suci”. Tidaklah demikian dengan cara pandang para Reformator Kristen. Mereka hidup sekaligus di dalam dua dunia, yakni dunia spiritual yang tidak nyata dan dunia fisik yang nyata, di mana bagi mereka, kedua dunia tersebut sama nyatanya, dan tidak ada pembagian antara dunia rohani dan dunia sekuler. Yang ada hanyalah satu dunia yang kudus yang adalah milik Tuhan.
Salah satu sumbangsih terbesar Gerakan Reformasi Kristen terhadap pembangunan peradaban manusia setelah abad ke-16 adalah upayanya mengembalikan kepekaan manusia di dalam mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan tanpa terkecuali. Mereka bertekad untuk menguduskan seluruh aspek kehidupan dunia, bukan dengan mengeluarkan berbagai larangan atau menjauhkan diri darinya, tetapi dengan menanamkan prinsip-prinsip Alkitab ke dalamnya.
Kesadaran dan tekad para Reformator Kristen untuk menempatkan seluruh aspek kehidupan di dunia ini di bawah prinsip Alkitab adalah karena mereka melihatnya sebagai ciptaan dan milik Tuhan yang kudus. Kepekaan mereka di dalam melihat seluruh kehidupan ini secara utuh mempermudah panggilannya di dalam mengintegrasikan antara kebutuhan dirinya, kebutuhan gereja dan kebutuhan publik menjadi satu gerakan religius yang efektif. Kepekaan inilah yang turut membangun kesadaran moral para Reformator Kristen untuk tidak bisa berdiam diri membiarkan aspek-aspek kehidupan di dunia dikuasai oleh roh-roh jahat begitu saja.
b. Seluruh yang kita pegang seharusnya untuk memuliakan ALLAH (All of Life is Glorify’s God).
3. Melihat pekerjaan Tuhan melalui peristiwa sehari-hari (Seeing God in commonplace)
Konsekuensi logis dari prinsip bahwa seluruh kehidupan adalah milik Tuhan, adalah keyakinan para Reformator Kristen untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan melalui sarana peristiwa kehidupan sehari-hari. Ini merupakan salah satu ciri khas karakter paling menarik yang dimiliki oleh para Reformator Kristen. Bagi mereka, semua yang terjadi dalam dunia, mengacu kepada rencana Tuhan sekaligus sarana pemberian anugerah-Nya. Mereka melihat kehidupan ini melalui kacamata kedaulatan Tuhan (God’s sovereignty) atas seluruh kehidupan di dunia. Dengan menggunakan cara pandang ini, maka tidak ada satu pun peristiwa yang dapat dianggap sepele atau taken for granted dari kacamata para Reformator Kristen.
Bagi para Reformator Kristen, apa pun di dalam kehidupan ini, bisa digunakan Tuhan sebagai sarana pemberian anugerah-Nya dan pembentukan Tuhan atas diri seseorang. Pandangan ini dibentuk oleh kesadaran para Reformator Kristen yang sangat kuat akan kedaulatan Tuhan di dalam memakai seluruh momentum kehidupan ini untuk mengetuk hati nurani dan mengerjakan anugerah-Nya.
Kesadaran ini juga membuat mereka sering merenungkan dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi di sekitar hidupnya guna mengetahui maksud dan tujuan Tuhan terhadap diri dan lingkungan sekitarnya melalui momentum peristiwa tersebut. Maka, tidaklah heran mengapa para Reformator Kristen memiliki kesadaran moral yang kuat untuk selalu ingin mengetahui apa kehendak Tuhan, apa yang benar dan apa yang salah di mata Tuhan. Bagi mereka, tidak ada tempat atau kejadian yang tidak berpotensial bagi orang Kristen untuk menemukan Tuhan di dalamnya.
Konsep modern tentang dualisme kehidupan dunia (rohani dan sekuler), membuat kita sering kurang peka dan sering melewatkan begitu saja momen-momen peristiwa yang terjadi di dalam diri dan sekeliling kita. Padahal, melalui momen-momen tersebutlah, Tuhan acapkali sedang membentuk diri kita atau mengasah Firman Tuhan yang telah kita pelajari guna mengarahkan kita pada suatu tugas panggilan tertentu atau menguatkan iman kita di dalam menjalankan misi tertentu.
4. Hidup dengan visi dan semangat pengharapan yang tinggi (Living in a vision and spirit of great expectancy)
Orang Kristen seharusnya tidak beraktivitas hanya untuk mengisi waktu, mengaktualisasi diri, menjalankan suatu rutinitas atau program yang telah ditentukan. Keyakinan para Reformator Kristen bahwa setiap umat Tuhan lahir untuk memenuhi sebuah panggilan hidup tertentu di dunia oleh Tuhan membentuk mereka menjadi orang-orang yang visioner. Seluruh aktivitas yang dilakukannya diintegrasikan guna mencapai visi tersebut dan dilaksanakan dengan penuh semangat dan harapan yang tinggi. Mereka menyadari betul bahwa kegiatan misi adalah aktivitas utama gereja di zaman antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, dan bukti kemenangan Kristus atas kuasa kegelapan pada kedatangan-Nya yang pertama merupakan suatu kekuatan dan pengharapan yang mereka imani di dalam menjalankan misi peperangan rohani.
Keyakinan mereka bahwa seluruh kehidupan ini adalah milik Tuhan yang berdaulat di dalam memelihara umat-Nya melalui sarana peristiwa sehari-hari, turut membentuk kesadaran para Reformator mengenai di mana mereka harus berdiri di tengah dunia dan kemanakah visi kehidupannya. Visi gerakan seorang Reformator Kristen tidak kurang dari melakukan pembaruan total kehidupan masyarakat (totally re-formed society) berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab.
a. Alkitab sebagai otoritas final terhadap setiap nilai dan kepercayaan hidup (Bible as a final authority to all beliefs)
Bagi para Reformator Kristen, setiap nilai-nilai keyakinan yang dikembangkan oleh manusia, baik itu budaya, agama, ideologi, sistem politik, filsafat hidup dan sebagainya, hanya akan menemukan keutuhannya apabila ia tunduk pada otoritas Alkitab, yang adalah sumber Kebenaran bagi segala “kebenaran” lainnya. Di luar Alkitab, setiap nilai-nilai dan sistem kehidupan tanpa terkecuali merupakan sesuatu yang rapuh dan fragmented.
Keyakinan bahwa Alkitab adalah sumber otoritas atas segala hal dalam kehidupan ini membentuk karakter dari gerakan Reformasi Kristen di dalam membangun peradaban manusia. Kedahsyatan dari pengaruh mereka di dalam membangun peradaban dunia selama abad ke-16 sampai ke-18 tidak serta merta diawali oleh ide-ide cemerlang yang dihasilkan oleh para tokohnya, tetapi oleh keberanian mereka dalam menyangsikan dan melawan otoritas di setiap bidang kehidupan yang tidak tunduk pada prinsip Alkitab. Keberanian ini ditopang oleh keyakinan para martir Kristen bahwa setiap nilai-nilai kehidupan hanya akan menemukan keutuhannya apabila ditundukkan pada otoritas Alkitab. Keyakinan mereka bahwa seluruh tema dalam setiap aspek kehidupan ini dapat ditemukan akarnya di Alkitab, mendorong keterlibatan para Reformator Kristen ke dalam berbagai bidang kehidupan, guna menegakkan tema-tema tersebut sesuai pada prinsip Firman Tuhan.
Thomas Cartwright, salah seorang tokoh awal Reformasi Kristen di Inggris, mengatakan bahwa “Alkitab berisikan arahan untuk segala hal yang dapat ditemukan dalam setiap kehidupan manusia.” Berdasarkan landasan ini dan natur penerapan prinsip Alkitab yang bersifat universal, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu lingkup bidang pun di dunia ini di mana orang Kristen tidak dapat menerapkannya berdasarkan kenyataan Firman Tuhan dan prinsip-prinsip Alkitab.
b. Keimamatan orang-orang percaya (Priesthood of all believers)
Setiap aspek kehidupan tanpa tekecuali hanya akan berjalan benar bila diterapkan berdasarkan prinsip Alkitab yang adalah sumber otoritasnya, dan hanya umat pilihan Tuhanlah yang mengetahui bagaimana mengembalikan tatanan kehidupan pada posisi sebenarnya. Oleh sebab itu, sudah menjadi tanggung jawab bagi setiap umat Kristen untuk “memimpin” setiap aspek kehidupan di dunia sesuai panggilannya. Hanya dengan cara inilah, Tuhan dipermuliakan di bumi. Dengan demikian, maka setiap umat Tuhan tanpa terkecuali, berkewajiban melaksanakan fungsi keimamatannya di seluruh aspek kehidupan dan untuk bisa melakukannya, maka ia harus selalu mempelajari Alkitab sebagai panduan hidupnya. Increase Mather, seorang Rektor Harvard di abad ke-17, mengungkapkan bahwa “maksud tujuan Alkitab kepada kita adalah untuk menunjukkan bagaimana semestinya kita melayani Tuhan, dan bagaimana semestinya kita melayani panggilan generasi di masa kita.”
Bagi para Reformator Kristen, hanya Alkitablah satu-satunya sarana yang mampu mempersiapkan dan membentuk seseorang menjadi pelayan Tuhan yang efektif dan produktif bagi kepentingan umum di seluruh bidang kehidupan, karena Alkitablah sumber otoritas dan Kebenaran bagi seluruh aspek kehidupan. Maka, tindakan pertama untuk mempersiapkan seseorang menjadi pelayan Tuhan yang efektif di manapun bidang kehidupan yang sedang atau akan ditekuninya, harus dimulai dari pembelajaran isi Alkitab itu sendiri dan pembinaan di dalam pengaplikasiannya.
Richard Baxter mengatakan bahwa “panggilan sebuah reformasi adalah suatu panggilan untuk mengambil tindakan, pertama-tama mentransformasi diri seseorang menjadi instrumen yang layak (fit) di dalam melayani kehendak Tuhan, dan kemudian mengkaryakannya di tengah dunia untuk mentransformasi seluruh kehidupan masyarakat.” Mempelajari Alkitab dan panggilan untuk terlibat aktif menuntun setiap aspek kehidupan pada prinsip-prinsip Alkitab merupakan dua fungsi keimamatan orang Kristen yang saling melekat satu sama lain.
Saudara-saudari, meskipun kondisi bangsa semakin terpuruk, semoga melalui artikel ini kita boleh tetap menikmati kehidupan di dalam memuliakan Tuhan, yang adalah tujuan akhir hidup dari setiap orang Kristen, baik itu di pekerjaan, kuliah, organisasi dan aktivitas lainnya, serta dapat membantu kita di dalam upaya menjadi pelayan Tuhan yang berkarakter dan dapat berperan di dalam memperbarui bangsa dan negara Indonesia. Tuhan memberkati.
PENEGASAN ARTI II TIMOTIUS 2:2 BERKENAAN DENGAN PERTUMBUHAN GEREJA
PENEGASAN ARTI II TIMOTIUS 2:2 BERKENAAN DENGAN PERTUMBUHAN GEREJA
BAB I
PENDAHULUAN
Menyimak kritikan mengenai pertumbuhan gereja adalah sebuah gerakan yang tidak mempunyai landasan Alkitabiah yang kuat, sehingga disebut sebagai gerakan yang tidak teologis atau miskin akan materi eksegesis. Pertumbuhan gereja hanya bersifat fenomenal yang hanya mengikuti trend yang ada pada saat itu. Untuk menangkal kritikan yang ada dan usaha untuk kembali kepada pertumbuhan gereja yang Alkitabiah, Donald Mc Gavran menegaskan bahwa gerakan pertumbuhan gereja adalah benar-benar teologis, Tuhan menghendaki agar domba-domba-Nya yang hilang diketemukan dan dibawa kembali ke kandangnya (Wartono, 2009: -).
Jika diamati pertumbuhan gereja saat ini memang lebih bersifat fenomenal, dimana jika ada suatu gereja baru yang memiliki “sesuatu” yang berbeda dengan gereja lain yang kebetulan “sesuatu” itu sedang trend, maka akan menarik simpati umat Kristen dari gereja lain untuk beribadah di gereja tersebut. Pada kenyataan yang ada melalui keberadaan pertumbuhan gereja yang seperti ini tidak lebih dari semacam “migrasi” jemaat ke gereja lain, lebih parah hal ini menunjukkan jumlah gereja semakin bertambah tetapi dombanya tetap.
Untuk menghindari hal yang serupa terjadi terus maka perlu adanya terobosan untuk sebuah pertumbuhan gereja yang teologis yang didasari materi eksegesis dari ayat-ayat Alkitab. Dalam kesempatan ini penulis mengetengahkan penegasan arti II Timotius 2:2 berkenaan dengan pertumbuhan gereja.
BAB II
PENEGASAN ARTI II TIMOTIUS 2:2 BERKENAAN
DENGAN PERTUMBUHAN GEREJA
A. LATAR BELAKANG AYAT
Timotius adalah seorang yang dikasihi Paulus seperti anaknya sendiri karena ketaatannya dalam menjalankan tugas. Timotius memiliki kelemahan yaitu: pemalu, penakut, sering sakit-sakitan dan rendah diri yang berlebihan, sehingga memerlukan banyak nasehat pribadi dan dorongan iman. Dalam suratnya yang kedua ini Paulus menasehati Timotius agar tidak malu karena Injil Yesus Kristus (II Timotius 1:8) dan tidak malu karena rasul-Nya yang saat itu menjadi tahanan dan sedang diadili yang kemungkinan besar akan dijatuhi hukuman mati (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 1, 2000 : 479-480).
Saat surat ini diterima, Timotius adalah gembala sidang di gereja Efesus (I Timotius 1:3) yang sedang menjalani tugas berat karena harus menghadapi ajaran dari guru-guru palsu dan sebagai seorang gembala sidang Timotius juga harus mengajarkan serta memberitakan Injil Kristus kepada setiap orang. Karena Paulus memahami bahwa Timotius adalah seorang yang memiliki banyak kelemahan maka dalam suratnya yang kedua Paulus menasehatkan supaya Timotius menjadi kuat oleh karena kasih karunia Yesus Kristus dengan terus mengingat apa yang sudah diajarkannya. Disisi lain Timotius juga diperintahkan untuk mengajarkan apa yang sudah diterimanya kepada orang lain yang juga cakap untuk mengajar kepada orang lain (II Timotius 2:2).
Dalam menghadapi banyak ajaran yang dilakukan oleh guru-guru palsu yang menyesatkan, Paulus menegaskan kepada Timotius melalui surat penggembalaan ini supaya memusatkan diri pada hal-hal yang utama yang telah diajarkan kepadanya sebagai ajaran yang sehat (II Timotius 1:13) sehingga tidak menyimpang dari ajaran yang benar. Menurut Paulus cara terbaik dalam menghadapi ajaran sesat adalah dengan mengajarkan kebenaran (Hand Book To The Bible, 2002: 699).
B. PENJELASAN AYAT II TIMOTIUS 2:2
Ungkapan rasul Paulus dalam II Timotius 2:2 ini menunjuk kepada keseluruhan ajaran Paulus yang disampaikan secara terbuka kepada Timotius selama bertahun-tahun, dimana ajaran itu pula yang harus diajarkan oleh Timotius kepada orang lain (Stott, t.t: 53).
Ayat II Timotius 2:2 ini dapat dijelaskan dalam 3 tahap berikut ini:
1. Sebagai rasul Yesus Kristus, Paulus selalu menekankan bahwa Injil yang diajarkannya bukan Injil manusia. Dalam kalimat: apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, Paulus mengingatkan tentang apa yang telah diajarkannya kepada Timotius yang disebutnya sebagai ajaran yang sehat (Stott, t.t.: 52). Apa yang dituliskan Paulus dalam II Timotius 1:13 diulang dalam pasal 2:2, dimana kata akousai kata kerja indikatif aorist (telah) orang kedua tunggal dari kata dasar akouo artinya: apa yang telah didengar Paulus dari Kristus. Dalam Alkitab Bahasa Sehari-hari dituliskan: Ajaran yang dahulu sudah engkau dengar dari saya (TEV: proclaim) lebih menjelaskan apa yang dimaksud Paulus dalam II Timotius 2:2 yaitu ajaran Tuhan Yesus Kristus (Injil) yang telah diterima Paulus di dalam iman, telah diajarkan kepada Timotius di depan banyak orang.
Jadi dalam bagian pertama ini menegaskan bahwa ajaran Tuhan Yesus Kristus (Injil) yang telah diterima dengan iman oleh Paulus telah disampaikan kepada Timotius di depan banyak orang.
2. Kalimat selanjutnya adalah percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, Paulus menegaskan supaya Timotius juga melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan Paulus: mempercayakan Injil kepada Timotius. Paulus menghendaki agar Timotius mempercayakan Injil yang telah diterimanya dalam iman kepada orang-orang yang dapat dipercayai (Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, 2003: 705).
Kata paranineo kata kerja imperatif (perintah mendesak = bersungguh-sungguh) orang ke dua tunggal, artinya: engkau harus sungguh-sungguh mempercayakan itu kepada orang lain. Dalam Alktab terjemahan Lama dikatakan: amanatkanlah kepada orang yang setiawan lebih menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Paulus adalah sebuah amanat yang harus dijalankan. Sebelumnya Paulus telah menerima amanat Injil dari Tuhan Yesus Kristus kemudian amanat itu disampaikan kepada Timotius dan saatnya tiba bagi Timotius untuk mengamanatkan Injil yang telah diterimanya dengan iman itu kepada orang lain yang dapat dipercayai.
Jadi dalam bagian ini Paulus menegaskan supaya Timotius bersungguh-sungguh dalam mengamanatkan Injil kepada orang yang dapat dipercayai seperti dirinya telah dengan sungguh-sungguh mengamanatkan Injil Kristus kepada Timotius.
3. Kalimat selanjutnya adalah yang juga cakap mengajar orang lain, Paulus memberikan syarat kepada siapa Timotius harus mengamanatkan Injil yang telah diterimanya dengan iman. Kata yang dipakai disini adalah didaskai berbentuk kata kerja aorist aktif dari kata dasar didasko yang artinya orang yang cakap mengajar orang lain.
Orang yang yang cakap mengajar yang dimaksudkan Paulus disini adalah pelayan Firman yang fungsi utamanya mengajar dan penatua Kristen yang bertanggungjawab mengatur rumah Allah, dimana mereka semua haruslah orang-orang yang penuh setia (Stott, t.t.: 54).
C. PENJELASAN PERTUMBUHAN GEREJA
Menurut Rick Warren, gereja adalah organisme yang hidup dan sudah barang tentu gereja akan bertumbuh jika gereja itu sehat (Warren, 2004: 20). Gereja dikatakan sehat jika gereja melaksanakan 5 fungsi gereja dengan seimbang, yaitu masing-masing fungsi gereja dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh.
Ini memberi penjelasan bahwasanya pertumbuhan gereja harus meliputi segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dalam usaha membawa orang-orang untuk mempunyai hubungan pribadi dengan Kristus, kepada persekutuan dengan-Nya dan kepada keanggotaan gereja yang bertanggungjawab (Wartono, 2009: -). Gereja baru bisa dikatakan bertumbuh jika semua aspek yang ada terpenuhi, sehingga gereja dapat berjalan dengan baik dan dapat menerapkan Amanat Allah secara efektif untuk membawa semua bangsa menjadi murid-Nya.
BAB III
KORELASI PENEGASAN II TIMOTIUS 2:2
DENGAN PERTUMBUHAN GEREJA
II Timotius 2:2 menegaskan tentang ajaran Kristus yang telah diterima dengan iman oleh Paulus telah disampaikan kepada Timotius dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab di depan banyak orang. Kemudian Paulus menegaskan supaya Timotius bersungguh-sungguh dalam mengamanatkan Injil kepada orang yang dapat dipercayai terutama kepada pelayan Firman yang fungsi utamanya mengajar dan penatua Kristen yang bertanggungjawab mengatur rumah Allah, dimana mereka semua haruslah orang-orang yang penuh setia.
Paulus dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab mendidik Timotius supaya memiliki iman yang benar melalui pengajaran Injil, dimana Injil Kristus diajarkan kepada Timotius didepan banyak orang. Setelah itu Timotius diperintahkan supaya melaksanakan seperti apa yang dilakukan Paulus yaitu bersungguh-sungguh dan bertanggungjawab mendidik orang lain sampai orang lain dapat melakukan hal yang sama.
Di era post modern ini kebenaran itu bersifat relatif dimana kebenaran itu tidak bisa digeneralisasikan kepada orang lain. Gereja yang mengemban amanat untuk memproklamasikan Injil kepada orang lain dihadapkan pada nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, hukum negara dan keyakinan lain. Dalam arti kata bahwa jika gereja memproklamasikan Injil kepada orang lain pasti ada resiko dan konsekwensi yang harus diterima.
Walaupun demikian, gereja harus tetap menjalankan amanat yang diembannya dengan memproklamasikan Injil kepada setiap orang yang belum percaya, sehingga setiap orang mempuyai hubungan pribadi dengan Kristus, bersekutu dengan-Nya dan menjadi anggota gereja yang baik. Dengan demikian gereja dapat bertumbuh dengan baik dan dapat menerapkan Amanat Allah secara efektif untuk membawa semua bangsa menjadi murid-Nya.
BAB IV
KESIMPULAN
Meskipun ada banyak resiko dan konsekwensi negatif terhadap pemberitaan Injil oleh karena kebenaran yang bersifat relatif dan tidak bisa digeneralisasikan, gereja masa kini harus terus menjalankan Amanat Agung dengan meproklamasikan Injil dan memuridkan orang yang percaya untuk bisa juga memproklamasikan Injil kepada orang lain.
Konsekwensi terhadap misi yang kita emban adalah tidak bisa dibantah, oleh karena Kristus menyertai kita sampai kepada akhir jaman menjadikan kita berani mengambil resiko. Pijakan keyakinan kita dalam menjalankan Amanat Agung lebih dikarenakan Injil itu bersifat sahih, acceptable dan powerfull.
Di era post modern ini gereja yang merupakan kebenaran abadi dan dipimpin oleh pendeta yang memiliki integritas akan mampu berpijak pada sifat Injil yang sahih, acceptable dan powerfull sehingga kebenaran Kristiani bisa digeneralisasikan. Dengan demikian mau tidak mau, baik atau tidak baik waktunya gereja harus tetap menjalankan Amanat Agung. Tidak ada alasan lagi untuk tidak memproklamasikan Injil Kristus kepada setiap orang yang belum percaya.
DAFTAR PUSTAKA
Stott, R, W, John, Pemahaman dan Penerapan Amanat Alkitab Masa Kini: II Timotius, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, t.t.
Tim Penerjemah, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 2000.
Tim Penerjemah, Hand Book To The Bible: Pedoman Lengkap Pemahaman Alkitab, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002.
Tim Penerjemah, Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 3 Cetakan ke-13, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 2003.
Warren, Rick, The Purpose Driven Church Cetakan ke 5, Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2004.
Wartono, Yosia, Dr, Catatan Kuliah Teologi Pertumbuhan Gereja, 2009.
PNEUMATOLOGI
PNEUMATOLOGI
A. SEJARAH
• Sampai abad ke 2 belum ada istilah Roh Kudus, Perdebatan Roh kudus justru akan memunculkan doktrin tentang Roh Kudus, hal ini bukan karena perdebatan teologis tetapi cenderung pada prakteknya dalam menanggapi karya dan peranannya dalam kehidupan jemaat.
• Ide mengenai Roh Kudus muncul setalah pada zaman PB (diidentifikasikan)
• Periode Reformasi – calvin berkata bahwa RK menulis Alkitab melalaui orang-orang dengan memberikan pemahaman kepada mereka. Pada saat ini belum ada orang yang memperdebatkan doktrin Roh Kudus karena tidak ada repon dr orang-orang
• Doktrin ini mulai muncul pd zaman John Wesley yang mengadobsi teologi armenian untuk mengadobsi pengertian RK.
• Ada pertemuan di Jln. Asuza di kalifornia ada pembahasan RK (1904) – muncul gereja pentakosta. Dan disini kelompok ini berkembang hebat juga di Asia tenggara.
• 1980 – ada gerekan baru yang disebut gelombang ke 3 didirikan oleh John Piper. Suatu penginjilan yang menggunakan klaim bahwa Roh kudus adalah kuasa yang akan memberikan kuasa bagi Penginjilan (Power Evangelism) menjadi mata kuliah di Fooller seminari selama 2 tahun. Gelombang ke tiga adalah pertama kalinya gerakan yang mempublikasikan karya Roh kudus (Penyembuhan, mujizat, bahasa Roh,dll). Masalah dari gelombang ke tiga adalah sifat dasar dari Doktrin mereka. Dokrin mereka berdasarkan pengalaman, dan pengalaman mereka berbeda-beda, dan dari keperbedaan itu sebenarnya mereka tidak punya dasar doktrin yang kuat.
• Pertama kali bahasa Roh adalah saat pentakosta, tetapi sebenarnya apa yang terjadi?
- Ada kata bhs atau dialeg dari daerah mereka masing-masing. Tidak mungkin murid-murid bisa mewakili jumlah bahsa mereka krn mereka berjumlah 3000 lebih. Mereka tidak hanya berkelompok, tetapi berbaur dan terlalu banyak dialeg disana.
- Itu adalah mujizat Allah dlm hal pendengaran, bukan bahasa, jadi itu adalah mujizat dalam pendengaran.
- Itu bukan bahsa Roh karena bahasa Roh tidak dimengerti, tetapi pada saat itu banyak orang engerti dengan dialeg bahasa mereka.
- Bahasa Roh digunakan untuk membangun gereja, kalau justru menjadi kekacauan maka tidak usah dipakai.
- Semakin ita punya pengaruh...maka kita menjadi target utama Iblis, iblis tidak bisa masuk ke dalam pikiran anda jadi jangan cerita kepada orang lain atau jemaat anda maka iblis akan tahu dan menyerang anda...!!! Ingat ini adalah peperangan Rohani...!!!
• Deitu of holy spirit
- Ada bermacam karunia tetapi satu Roh
• Kepribadian Roh Kudus
- Selalu menggunakan kata ganti orang yang bersifat maskulin. (Yoh 16:13-4) ini cara penulisan ayat yg baru – 13-14 ditulis 13-4. Disini dalam bhs asli ada kata Pneuma yang beraeti Nuter, tetapi ada juga kata Ekeinos yang berjenis maskulin.
- Seringkali juga dihubungkan dengan Pribadi. Seriing disebut Parakletos yang berarti bukan kekuatan Abstrak, tetapi pribadi. I Yoh 2 dikatakan para kletos yang berhubungan dengan pribadi. Yoh 14:16 –
II Tim 3:16 – berbicara mengenai pribadi pertama dan ke dua.
- Roh kudus punya kepribadian dan sederajat dengan dua pribadi lainnya.
• Implikasi dari doktrin
- Roh kudus adalah pribadi dan bukan sebuah kekuatan yang tidak dapat dijelaskan. Aplikasinya adalah kita isa berhubungan dengan RK krn Dia Pribadi, kalau kita bisa berhubungan dengan RK, berati kta bisa berdoa dengan atau kpd RK
- Mendapat hormat dan kemuliaan yang sama. Dia layak mendapat Hormat dan respec terhadap Allah Bapa. Esensinya sama.
- Satu dengan Bapa dan Anak, mereka bekerja dengan rencana yang sama yg tidak peranh ada kesalahpahaman. RK tidak akan pernah menentang Yesus atau Bapa.
- Dia disekitar kita dan Intim dengan kita dan ini sangat penting bagi kita. Implikasinya bahwa Allah dekat dengan kita. Imanuel.
• Pekerjaan Roh Kudus.
- Dalam Pb kita fokus pada Yesus dan orang percaya, dlm Pl terlihat dalm kejadian 1:26.
- Dlm Pl tidak ada nama RK melainan Roh Allah, tetapi Petrus menjelaskannya dalam Pentakosta bahwa RK mengurapi. Ini dia menggunakan frase dalam Pl menjadi RK dalam PB dan mneyatakan Bahwa roh Tuhan dalam Pl saa dengan RK dalam PB.
- Bilangan psl 11:RK menolong orag untuk berrnubuat. Dalam PB RK dwelling in teh belivers heart
- Memberik karuniauntuk merancang bait Allah. Ia memberi karunia.
- Hakim hakim 3:10, 6:34. 14:19,
• Pekerjaan dalam PB
- Kelahiran
- Pelayanan
- Dicobai
• Awal Pekerjaan Roh Kudus dalam pribadi orang percaya
Re – generasi ---Re adala again dan generasi adalah mulai jadi berarti mulai Lagi. Maksudnya adalag ketika adam pertam dihembusi roh
Allah, dan kemudian mati, maka kelahian kembali dimulai dengan datangnya RK dalam diri orang percaya. Inilah arti regenerasi. Dalam regenerasi kita dipenuhi oleh Roh dan dimeteraikan.
• Kelanjutan karya RK dalam orang percaya
- Yoh 14:12 – melakukan perbuatan lebih besar dari Yesus
Apa artinya? Bukan mujizat, penyembuahn dan lainnya dari Yesus, tetapi Kis 1:38-41,47, 4:13, 5:14 – yaitu banyak sekali orang yang diselamatkan. Karya terbesar Yesus adalak keselamatan, jika kita menaklukkan dosa berarti kita sedang berbuat atau berkarya besar spt Yesus.
- Empowering --- diberikan kekuatan atau kuasa Kis 1;8. – hati-hati dengan kata kalau --- yang benar adalah KETIKA. Ada juga disitu kata martireo yang berarti kematian sebagai kesaksian. Lihat semua murid yesus mati sebagai martir keculi Yohanes saja yang tidak mati melalui pembunuhan tetapi penderitan di P. Patmos. Pilih mana?
- Indwelling –mendiami kita. Yoh 14:16-7. 16:13-4. Illuminasi – memberikan petunjuk apa yang dimaksud oleh Yesus.
- Mengajar anda
- Menjadi erantara bagi kita
- Pengudusan
Rom. 8:1-17 – Tranformasi terus menerus dalam hidup orang percaya sehingga kita menjadi cermin bagi kemuliaan Allah.
o Ayat 2 – merayakan ebebasan dari hukum taurat
o And dari gadigat 4 – Dibebaskah dari daging dan mrnjadi Rohani
o Ayat 5 –kita akan diubah cara pan pandang kita diubhkan
o Ayat 9 – RK
o Ayat 9 – 11 – diam didalam kita
o Ayat 13—dituntun dari kematian daging
o Ayat 14 -- kit
o Ayat 15-7dpimpi Roh
Ini adalah proses terus menerus. Galatia 5:16-23—seringakali kita membuah person bukan dosanya. Membunuh odsa adalah memnbarkan dia dalam tubuh makai kan Kelalaparan
- Karunia rohani. Pauus 3 daftar, Petrus 1 daftar,
o Semua sama tapi tujuan beda
Efesus = offices
Peter / Rom = dasar pertumbuhan gereja
Korintus = kemampuan
Jangan bingung tentang karunia yang berbeda.
o Ada bunia yang diharapkan oleh orang percayae
o Perbedaan talenta dan karunia rohani
Talenta :bla...bal...lab...alb..abl
Karunia Rohani : Pemberian ilahi atau keampuan khusus untuk melayanai. Misal : mungkin punya talenta bermain piano, tetapi tdk akan pernah menjadi karunia rohani jkalau tuhan tidak memampukan anda untuk melayani di gereja. Karunia rohani selalu memberi dampak bagi orang terhilang dalam gereja, tetapi talenta tidaklah demikian.
o Krunia rohani sangat pentingnia rohtuk disatukanani, tetapi setiap orang berbeda tetapi u
o Tidak semua orang mempunya semua jkar
o Da memberi kepada siapa dia mau memberi
- Karunia rohani. 5 pandangan :
1. Cessationist
o Concentic cessasionis. Karunia itu sudah berhenti
o Clasikal =-- karunia berhenti pada rasul-rasul
o Full – tidak ada lagi karunia rohani
o Kesinambungan – tanda kar Unia rohani berlanjut sepanjang abad seperti kata Alkitab. Karena itu masih H ada sampaisekarang
o Charismata – tanda karunia ada dimana-mana dan berfokus pd bahasa lidah – karunia ke 2 dr RK
• .
• .
•
HAMARTIOLOGI
HAMARTIOLOGI
Pendahuluan
Seberapakah serius kita menganggap dosa? Apakah ini adalah tpik yang penting bagi kita? Yang paling membahayakan adalah dosa dalam bentuk tunggal (Sin) dan bukan dosa dalam arti jamak (sins). Dosa tunggal akan melahirkan perbuatan-perbuatan dosa atau dosa-dosa. Khusus bagi orang percaya kita akan bicara mengenai dosa-dosa. Tetapi dalam hamartiologi kita gabungkan dua konsep ini. Jadi ketika kita bicara mengenai perbuatan-perbuatan dosa – ini bagi orang yang tidk percaya karena perbuatan dosa itu dihasilkan oleh Dosa, sedangkan dosa-dosa kitabicara bagi orang percaya. Dosa dalam bentuk tunggal akan mengirim kita ke neraka. Dosa tunggal adalah dosa menghujat roh kudus yaitu tidak atau menolak Yesus Kristus.
Seberapa sedih anda melihat dosa dalam bentuk tunggal atau pun dalma bentuk jamak?
Anda akan melihat secara benar ketia anda memiliki hubugan pribadi dengan Allah. Dosa adalah hubungan dengan Allah bukan dengan sesama. Kita berbuat dosa kepada saudara jika kita melakukan hal-hal yang menentang Firman Allah dan manusia itu diciptakan segambar dan seruupa dengan Allah (imago dei). Ketika kita membunuh berarti kita berdosa kepada Allah krn kita membunuh imago Dei Allah. Kadang kita meringankan dosa krn alasan-alasan terntentu, tetapi standart tetap ada pada Allah jadi jika sesuatu melanggar standar dari Allah maka kita sedang berbuat dosa.
Allah
dosa
Dosa
Dosa adalah penghinaan akan kekudusan dan kebenaran Allah. Bagi Orang yang memiliki pandangan yang rendah tentang Allah mereka juga punya pandangan rendah tentang dosa sehingga penyembahan kita dangkal. Tetapi sebaliknya, penyembahan kita akan luas dan luar biasa kalau pandangan kita dengan Allah sangat tinggi terhadap Allah sehingga pandangan kita tentang dosa juga dalam atau rendah.
Ada juga orang yang pandangan tentang Allah tinggi tetapi pandangan tentang dosa rendah atau tidak dalam (Menggunakan kemerdekaan sebagai aat untuk berbuat dosa- galatia 6) ada juga sebaliknya.
Dosa adalah pelanggaran utama terhadap Allah. Gereja Baptis biasanya pandanagn terhadap Allah tidak tinggi (sedang saja) sdangkan orang pantekosta mempunya pandangan tinggi dan takut berbuat dosa. Mengapa demikian karena konsep atau interpretasi yang salah tentang sotereologi bahwa mereka takut tidak masuk surag kalau berbuat ”dosa-dosa”. Penyembahan mereka disebabkan karena interpretasi yang salah tentang RK dan rasa ucapan syukur karena Allah telah mengankat meeka dari lumpur dosa.
Kita menyembah Allah karena Allah layak mendapatkan penyembahan dari setiap yang bernafas.(Yesaya 6:1-3). Malaiakat berada di garis tengah (tidak kenal dosa) tetapi memiliki pandangan yang tinggi terhadap Allah. Lihat Wahyu 4:8--? Setiap kali mereka melihat Allah mereka terus memuji Kudus..kudus..kudus... dan seterusnya...Para malaikat tidak pernah merasa lelah meliat kemuliaan Allah. Bagaimana dengan lusifer kalau setiap dtik semua malaikat terus memuji Tuhan, bagaimana mungkin dia memuji sambil menyombongkan diri? Ya ..bisa....sambil memuji dia juga berkata tapi saya juga layak. Misal : Bajumu buagus, tetapi lebih bagus lagi untuk saya.
Ada orang yang berkata ”Engkau Allah yang yang kudus... sekarang buatlah sesuatu terhadap aku” wow...ini salah penyembahan kita berpusat pada Allah bukan untuk kita..ini konsep yang salah.
Mengapa kita harus kudus? Karena Allah maha Kudus dan dengan cara itu kita menghormati Allah. Ini tidak akan terjadi sebelum kta memiliki pandangan bahwa dosa adalah sesautu yang mengerikan dan sangat berbahaya.
Imputasi adalah lawan dari amputasi, sesuatu dimasukkan dalam hidup kita, dalam hal ini allah mengimputasi kebenaran Allah dalam diri kita. Kita belajar dari karakter moral Allah yang memiliki moral yang sempurna. Kebenaran yang sempurna menuntut keadian yang sempurna juga.
Nama lengkap Allah Keluaran 34:6-7 – nama pertama Alah adalah aku adalah aku, nama tengah ”pengampunan” dan nama akhir adalah keadilan. Kemuliaan Allah akan diberikan kepada mereka yang mau menerima anaknya dan sebaliknya. Allah memiliki kebenaran eksternal dan internal, Kebenaran internal adalah kekudusan internalnya yang dapat dilihat dengan 2 cara yaitu kudus positif—kebaikkannya kepada mereka yang mengsihinya dan kekudusan negatif adalah sesautu yang dia lkukan terhadap meeka yang melanggar hukum-hukumnya. Kebenaran eksternal atau legislator yaitu ketika ia menerapkan hukum-hkumnya atau kebenaran yudikator yaitu penghukuman kepada mereka yang melanggar hukumnya.
Ketika kitabicar kebenaran legislator kitabicar pada ukum-hukum allah. Ada 2 yaitu hukum alam yang dituliskan dalam hati manusia (Roma 1:18-...) yang diberikan melalui pewahyuan umum. Dan hukum yang kedua adalah hukum-hukum musa yaitu panduan-panduan untukmengatur tingkahlaku manusia. Hukum datang melalui musa tetapi anugrah melalui Tuhan yesus. Hukum Musa adalah10 hukum Tuhanada beberapa kategori dari hukum ini, yaitu moral kemasyarakatan dan upacara-upacara. Kita bisa melihat kebenaran Allah dengan cara melihat dia menuliskan hukum-hukumnya. Ini adalah legislator dan merupakan bagian dari kekudusan Eksternal. Ini diberikan sebelum manusia bertindak, nah kalau manusia bertindak ikut atau tidak pd hukum Allah maka akan ada keenaran yudisial, contoh: Allah mengatkan lakukan sesuatu dan anda melakukan, maka keadilannya akan diberikan kepada anda atau anda tidsk melakukan dan anda juga akan enerima keadilannya. Jadi kebenaran yudisial itu begitu penting, sebab tanpa kebenaran yudisial, maka kebeanran legislator tidak ada artinya. Contoh: saya punya 2 anak, satu 4,5 tahun dan satunya baru lahir. Kepada anak pertama saya perintahkan jangan lakukan ini, maka dia melakukan juga, maka saya akan memberikan kebenaran yudisial, supaya nanti dia jagangan berkata wah gak diapa-apain, saya lakukan juga.
Kebenaran yudisial (Keenaran khusus) dibagai menjadi 2 yaitu Remuneratif dan Reributif. Remuneratif adalah pahala yang diberikan kepada kita, sedangkan retributif adalah hukuman atau pinalti.
Apa itu penebusan pengganti? Yesus menggantikan pahala (Remuneratif) tetapi diganti degan retributif atau pinalti. Sebenarnya kita ini layak mendapat retributif tetap karena Yesus kita memiliki remuneratif, sebaliknya Yesus mendapat retributif.
Sebelum kita mengerti dosa, kita harus memahami kebenaran dan kekudusan Allah, karena kita tidak bisa menstandarkan dosa dengan apaun kecuali kekudusan Allah. Oleh karena itu dosa-dosa harus dilihat cara pandang Allah.
KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN BERDASARKAN I PETRUS 1:16
KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN
BERDASARKAN I PETRUS 1:16
PENDAHULUAN
Alkitab dengan jelas meyatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27; I Korintus 11:7). Davidson menegaskan arti gambar dan rupa Allah adalah: manusia berada didalam hubungan pribadi yang bertanggungjawab dengan Allah. Brill mengatakan bahwa gambar dan rupa Allah meliputi kekudusan, dimana manusia diciptakan dengan pengetahuan yang baik dan jahat, dimana manusia dijadikan kudus dan tidak berdosa.
Dengan keberadaan ini, manusia (dalam hal ini Adam) diciptakan dengan perangai kudus dan senantiasa merindukan Allah. Alkitab menyatakan bahwa setelah jatuh dalam dosa, manusia dilahirkan dengan kerinduan menjauh dari Allah. Dalam perkembangan selanjutnya baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa manusia lebih menuruti kehendak daging yaitu hidup dalam dosa, dimana manusia lebih banyak dikendalikan oleh kehendak pribadi dan tindakan yang bertolak belakang dengan kekudusan Allah yang pada dasarnya semua kehendak dan tindakan manusia lebih mengarah pada dosa.
Allah menghendaki agar manusia tetap tinggal bersama dengan Dia, untuk itu Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal turun ke dunia untuk menebus manusia dari dosa dan mendamaikan hubungan manusia dengan Allah, sehingga manusia dapat kembali berhubungan dengan Allah.
Ketika manusia mendengar kabar keselamatan kemudian bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi, manusia mendapat pengampunan, dalam arti kata manusia dikembalikan ke posisi semula yaitu manusia memiliki kekudusan dalam hidupnya karena dosa-dosa dan kesalahannya sudah dihapuskan. Dalam hal ini tidak berarti bahwa manusia dapat berbuat sekehendak hatinya atau bahkan bermalas-malasan. Tetapi ada tanggungjawab yang dituntut Allah supaya terus dikerjakan dalam hidup manusia yaitu hidup dalam kekudusan.
Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:6: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. Implementasi dari ayat ini adalah dalam setiap segi kehidupan manusia yang pada dasarnya memiliki kehendak bebas adalah menyelaraskan hidupnya dengan kebenaran Firman Tuhan jika ingin terus dikenan oleh Allah. Yang menjadi pertanyaan adalah konsep kekudusan itu sendiri yang harus dikerjakan dalam kehidupan setiap orang percaya.
KEKUDUSAN
BERDASAR I PETRUS 1:16
A. Penjelasan I Petrus 1:16
Dalam buku Tafsir Alkitab Masa Kini III dikatakan bahwa surat I Petrus ditulis oleh penulis surat yang memperkenalkan diri sebagai ”Petrus, rasul Yesus Kristus” (I Petrus 1:1) dan saksi penderitaan Yesus Kristus (5:1). Surat ini ditulis pada tahun 63-64 M pada masa pemerintahan kaisar Nero, ditujukan kepada orang percaya yang berdiaspora, yaitu ”mereka yang terpilih” (I Petrus 1:1-2).
Surat I Petrus ditulis sebagai jawaban terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang terpilih, berkenaan dengan kecurigaan dan cemoohan masyarakat serta ancaman akibat ketidaksenangan masyarakat ditambah tuduhan kaisar Nero. Situasi kondisi ini menjadikan orang yang terpilih hidup dalam bayang-bayang penindasan. Selain jawaban yang demikian surat I Petrus juga menegaskan supaya orang yang terpilih hidup sesuai dengan kehendak Kristus sebagai konsekwensi dari iman percaya mereka kepada Kristus.
Caram menegaskan apa yang diungkapkan Petrus bahwa setiap orang yang percaya tidak boleh menyerah ketika dalam tekanan yang luar biasa, tetapi sebaliknya mendisiplin pikiran-pikiran dan berharap sampai akhir karena ada pencurahan kasih karunia (I Petrus 1:13).
Dalam hal inilah surat I Petrus berusaha menyatakan bagaimana kebenaran-kebenaran yang berharga yang terdapat dalam kehidupan orang Kristen yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan setiap orang percaya dengan penuh ketaatan dalam segala keadaan sebagai etika dan moral menurut teladan kekudusan Allah yang telah memanggil mereka kepada-Nya (I Petrus 1:14).
Berkhof menjelaskan, kata kudus berasal dari bahasa Ibrani quadash ( vAdq' ) artinya ”memotong” atau ”memisahkan”, dimana kata ini adalah yang paling dalam maknanya yang ditujukan kepada Allah. Kata ini bahasa Yunani hagios ( a[gioj ) artinya kekudusan. Pemahaman dasar dari kata ini adalah satu posisi atau hubungan yang ada antara Allah dengan orang-orang atau benda.
Kalimat: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” dalam Alkitab dituliskan sebanyak empat kali. Dalam kitab Imamat kalimat ini selalu didahului oleh kalimat ”Allah berfirman”. Hal ini menunjukkan bahwa ada suatu tuntutan etika dan moral, dimana Allah menghendaki agar hati dan pikiran setiap orang percaya sepenuhnya dibersihkan dari kehidupan yang dipenuhi hawa nafsu, sesuai dengan apa yang diteladankan-Nya melalui kehidupan Kristus.
Allah tidak menghendaki manusia berbuat dosa, Allah menghendaki supaya setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan sudah diampuni dosanya tidak tinggal diam atau bermalas-malasan menunggu datangnya anugerah. Tetapi setiap orang percaya harus mengerjakan keselamatan yang diterimanya dengan hidup kudus sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai bentuk tanggungjawab etika dan moral.
Allah Yang Kudus tidaklah bisa berhubungan dengan apapun yang tidak kudus termasuk manusia. Hadiwijono mengatakan bahwa Allah menghukum setiap orang yang menghinakan kekudusan-Nya, Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya umat Allah adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah dari segala dosa dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allahnya. Tanpa hidup kudus tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus.
Allah mau datang ke dunia dan menebus dosa untuk pengampunan manusia sehingga Allah dapat berhubungan dengan manusia. Setitik dosa sudah bisa menjadikan hubungan manusia dengan Allah tidak harmonis, karena itu Allah berkehendak supaya ciptaan-Nya tetap mengerjakan keselamatan dengan jalan hidup dalam kekudusan sehingga manusia tetap dapat berhubungan dengan Dia.
B. Kekudusan Allah
Istilah kudus dalam Perjanjian Lama sama dengan yang ada dalam Perjanjian Baru, dimana istilah kudus dipakai dipakai dalam pengertian yang tinggi, yang menunjuk kepada keterpisahan Allah dari ciptaan dan bahwa Allah mengungguli ciptaan itu.
Berkhof mengatakan bahwa:
Makna asli kekudusan Allah menunjukkan bahwa Allah itu mutlak berbeda dari segala makhluk ciptaan-Nya dan Allah ditinggikan jauh diatas manusia dalam kemuliaan yang tiada terbatas. Jadi dapat dipahami bahwa kekudusan Allah adalah atribut-Nya yang transendental yang merupakan kesempurnaan-Nya yang sentral dan paling tinggi.
Lebih lanjut Berkhof mengatakan bahwa kekudusan Allah mempunyai aspek etis yang secara khusus lebih mengkaitkan manusia dalam hubungannya dengan Allah karenak kekudusan etis Allah berarti pemisahan dari kejahatan moral atau dosa.
Dalam Perjajian Lama Allah membuat tuntutan-tuntutan moral yang keras Davidson menerangkan bahwa hakekatnya kekudusan Allah yang sebenar-benarnya mencakup kesempurnaan moral yang menerangi dengan jelas keberdosaan manusia. Salah satu alasan utama Allah membuat hukum Taurat melalui Musa adalah untuk menunjukkan kekudusan-Nya, ketika Allah menurunkan patokan moral yang sah, Allah membuktikan diri-Nya sebagai yang benar, bermoral dan kudus.
Berkhof mengatakan:
Definisi kekudusan Allah adalah kesempurnaan Allah, dimana Dia secara kekal berkehendak dan senantiasa menjaga kemuliaan moral-Nya, membenci dosa dan menuntut kemurnian dari makhluk-makhluk yang bermoral. Sedangkan manifestasi dari kekudusan Allah dinyatakan dalam hukum moral yang tertanam dalam hati manusia dan berbicara melalui hati nurani dan wahyu Allah. Segala aspek hukum itu dalam segala hal akan menanamkan pemahaman akan kekudusan Allah dan mendorong bangsa itu untuk menyadari perlunya hidup kudus.
Disisi lain kekudusan Allah juga terlihat dari hukum korban-korban-Nya, ketika Allah memerintah untuk menyembelih binatang sebagai korban dan darahnya dicurahkan semua membuktikan bahwa kematian adalah akibat dosa, sementara Allah adalah kekal tidak pernah mati. Kekudusan Allah dibagian lain dalam Alkitab dicerminkan dalam peristiwa penghakiman terhadap dosa, Allah menghukum dosa karena Dia kudus. Pada bagian lain kekudusan Allah tercermin juga dalam peristiwa penyaliban Kristus yang menanggung doa manusia yang menggambarkan kebencian-Nya akan dosa, Allah hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada jaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan nyawa-Nya sendiri, itulah kekudusan Allah.
C. Kudus: Atribut Allah yang ada pada manusia melalui pertobatan
Makna dasar dari kata quadash ( vAdq' ) yaitu: menyendirikan dan cemerlang. Arti dari kata ini menekankan penggunaannya yang berkaitan dengan keadaan atau proses dalam Perjanjian Baru yang mengarah pada perubahan batin yang terjadi berangsur-angsur, yang menghasilkan kemurnian, kebenaran moral dan pemikiran suci yang menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan lahiriah yang baik dan menurut kehendak Tuhan.
Makna dasar ini senada dengan kata metanoia ( meta,noia ) yang artinya perubahan hati atau perubahan niat atau pertobatan, kata ini berarti berpaling, mengubah segenap sikap hidup lalu memandang kepada Yesus, sehingga ada perubahan yang radikal dan terjadi terus menerus dalam kehidupan manusia. Istilah Alkitab mengatakan hal ini adalah kelahiran baru atau menjadi manusia baru yang berbeda dengan manusia sebelumnya, dalam hal ini terkandung pengertian pembaharuan bahwa manusia mati lepas dari dosa dan hidup bagi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dalam kekudusan.
Thiessen mengatakan bahwa pertobatan meliputi tiga aspek, yaitu: pertama, unsur yang menyangkut pikiran, yaitu perubahan pandangan terhadap dosa, Allah dan diri sendiri. Dosa diakui sebagai kesalahan pribadi, Allah sebagai penuntut kebenaran dan diri sendiri sebagai yang sudah tercemar dan tidak berdaya. Kedua, unsur yang menyangkut perasaan hati, yaitu perubahan perasaan yang sedih (penyesalan) atas dosa dan mendambakan pengampunan, dan ketiga, unsur yang menyangkut kehendak yaitu perubahan kehendak untuk meninggalkan dosa untuk mendapatkan pengampunan dan pengudusan.
Pengudusan adalah kasih karunia Allah, melalui kasih karunia itu orang percaya menjadi kudus serta mendapat kuasa untuk mengalahkan dosa. Allah berfirman kepada setiap orang percaya: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”, ini adalah sebuah perintah untuk menjadi kudus seperti Dia adalah kudus. Karena manusia tidak akan pernah dapat mencapai kekudusan itu dengan kekuatannya sendiri, Allah sudah menyediakan jalan supaya setiap manusia dapat dapat mentaati perintah itu, yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus yang telah membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN
Berkhof mengatakan bahwa kekudusan Allah dinyatakan dalam hukum moral yang tertanam dalam hati manusia dan berbicara melalui hati nurani dan wahyu Allah. Semua aspek hukum itu menanamkan pemahaman akan kekudusan Allah dan mendorong manusia untuk menyadari perlunya hidup kudus.
Allah berfirman kepada setiap orang percaya: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”, ini adalah sebuah perintah untuk menjadi kudus seperti Dia adalah kudus. Seperti apa yang telah diuraikan dalam bab yang lalu bahwa kekudusan manusia diawali dengan adanya pertobatan sehingga ada kelahiran kembali.
Kekudusan tidaklah dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri, tetapi Allah telah membuka jalan dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban tebusan bagi banyak orang. Manusia yang rindu hidupnya menjadi kudus haruslah terlibat secara pro-aktif dengan menyerahkan kehidupannya melalui pertobatan.
Seseorang yang ingin hidup dalam kekudusan harus menyadari bahwa tabiat tubuh atau kedagingan tidak akan dikenan Allah. Manusia perlu mendapat hidup yang baru dan perubahan yang terjadi melalui kehidupan yang baru, Brill mengaskan bahwa dilahirkan kembali berarti menerima kodrat Illahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan pengantaraan Firman Allah, dimana dalam kelahiran kembali itu Allah memberikan perangai-Nya yang suci, berbudi, berfikir seperti Allah, berperasaan seperti Allah sehingga manusia hidup kudus.
Ketika kita membicarakan pengudusan, tidaklah ini berarti bahwa orang yang beriman, bertobat dan mengalami kelahiran baru dia sudah kudus secara sempurna, sekali-kali tidak, oleh karena sering kali dalam hidup manusia terjadi pergumulan kehidupan yang menyebabkan iman yang naik turun yang berujung pada timbulnya dosa dalam kehidupan umat manusia.
Hadiwijono mengatakan bahwa selain Allah berkarya menguduskan manusia, ada ayat lain yang menyatakan bahwa manusia juga harus menguduskan diri. Karena itu haruslah dipandang bahwa hidup baru adalah hidup yang berisikan ketaatan dan iman semata-mata sehingga hidup baru yaitu hidup dalam kekudusan haruslah dipandang sebagai hidup yang penuh tantangan dan pergumulan kehidupan.
PENUTUP
Allah menuntut manusia untuk hidup dalam kekudusan oleh karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan Allah. Kekudusan ini berdasarkan darah Kristus, tetapi selama orang Kristen masih tinggal di bumi maka dia masih berpotensi untuk berbuat dosa, oleh sebab itu setiap orang Kristen harus terus menyelaraskan sikap, perilaku hidup mereka kepada Firman Tuhan.
Sebagai orang Kristen, hendaknya kita terus hidup dalam kekudusan Tuhan dengan jalan senantiasa menyelaraskan hidup kita dengan Firman Tuhan dalam hidup kita setiap hari sehingga hidup kita terus mengalami proses pembaharuan hari lepas hari sehingga menjadi manusia baru yang hidup dalam kekudusan Tuhan. Sadarilah bahwa apa yang kita lakukan tidaklah mulus, tetapi banyak halangan dan rintangan yang ada dihadapan kita. Tetaplah bersandar dan berharap kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga kehidupan kita menjadi sempurna seperti Dia juga adalah sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Arthur, John, Mac, JR., Prioritas Utama Dalam Penyembahan, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1994.
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, Surabaya: Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature) Cetakan ke 8, 2009.
Brill, Wesley, J., Dasar Yang Teguh, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993.
Caram, Paul, G., Diteguhkan, Dikuatkan, Dikokohkan, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2001.
Davidson, Robert, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK Gunung Mulia Cetakan Ke 3, 2001.
Foster, Richard, J., Tertib Rohani: Sudahkah Anda Memilikinya?, Malang: Penerbit Gandum Mas, 1990.
Hadiwijono, Harun, Dr, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia Cetakan Ke 3, 1982.
Nitfrik, G.C. van, Dr., & Dr. B.J. Boland, Dogmatika Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981.
Santosa, David, Iman, Dr, Theologi Yohanes: Intisari dan Aplikasinya, Malang: Literatur SAAT, 2005.
Tenney, C, Meryll, Survey Perjanjian Baru, Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas Cetakan ke 6, 2001.
Thiessen, Henry, Clarence, Teologi Sistematika, Malang, Penerbit Gandum Mas Cetakan Ke 6, 2003.
Tim Penerjemah, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I (A-L), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 2000.
Tim Penyusun, Tafsir Alkitab Masa Kini Jilid III: Matius – Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF Cetakan ke 13, 2003.
Turner, J, Clyde, Pokok-pokok Kepercayaan Orang Kristen, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1978.
Staf Redaksi, Jurnal Teologi STULOS volume 8 Nomor 1, Bandung: STT Bandung, 2009.
Whitney, Donald, S., Disiplin Rohani: 10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen, Bandung: Lembaga Literatur Baptis (YBI) Cetakan Ke 4, 2001.
Mitos makanan ‘berbahaya’ yang terpatahkan
Mitos makanan ‘berbahaya’ yang terpatahkan
Agar Anda bisa kembali mengkonsumsi ‘makanan terlarang’, inilah mitos-mitos makanan yang telah dibantahkan. Selamat menikmati!
Mitos 1. Gula berkalori lebih tinggi dari pemanis lain
Ternyata… Pemanis seperti ‘madu alami’ terbentuk dari molekul gula yang sama, dan menghasilkan jumlah kalori yang sama, yaitu 4 kalori per gram. Gula natural membuat makanan bergizi terasa lebih nikmat tanpa membuat berat badan bertambah. Namun konsumsi gula tidak boleh lebih dari 10 persen dari total kalori yang diperlukan tubuh.
Mitos 2. Telur meningkatkan kadar kolesterol
Ternyata… Jenis kolesterol dalam telur tidak mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Jadi silakan menikmati telur untuk sarapan, makan siang dan makan malam, tanpa rasa bersalah! “Riset tidak pernah menunjukkan hubungan antara konsumsi telur dengan risiko penyakit jantung atau penyumbatan pembuluh darah,” ujar Don Layman, PhD., profesor di Fakultas Ilmu Makanan dan Nutrisi Universitas Illnois.
Mitos 3: Lemak jenuh meningkatkan kolesterol
Ternyata…Beberapa jenis lemak jenuh berguna bagi tubuh. Makanan seperti kelapa dan cokelat mengandung kolesterol yang disebut lemak jenuh yang ‘baik’. Ini bukan sebuah izin untuk bebas mengkonsumsi makanan berlemak jenuh karena lemak apapun cenderung berkalori besar.
Mitos 4: Menambah garam = membuat darah tinggi
Ternyata… Garam dalam air mendidih justru membuat sayuran lebih bernutrisi. Garam juga mempercepat proses memasak sehingga nutrisi yang hilang menjadi lebih sedikit. Penulis buku On Food & Cooking, Harold McGee, merekomendasikan satu sendok teh garam setiap satu gelas air. Jumlah sodium, penyebab darah tinggi, yang diserap makanan sangat kecil.
Mitos 5: Gorengan membuat gemuk
Ternyata...Gorengan yang sehat BISA dibuat, meski tidak termasuk ayam goreng restoran cepat saji Tapi jika menggunakan minyak nabati seperti kedelai, atau minyak kacang, Anda bisa membuat sajian gorengan yang lezat dan sehat.
Langganan:
Postingan (Atom)