mandiri dalam pengharapan

Rabu, 27 Oktober 2010

KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN BERDASARKAN I PETRUS 1:16

KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN BERDASARKAN I PETRUS 1:16 PENDAHULUAN Alkitab dengan jelas meyatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27; I Korintus 11:7). Davidson menegaskan arti gambar dan rupa Allah adalah: manusia berada didalam hubungan pribadi yang bertanggungjawab dengan Allah. Brill mengatakan bahwa gambar dan rupa Allah meliputi kekudusan, dimana manusia diciptakan dengan pengetahuan yang baik dan jahat, dimana manusia dijadikan kudus dan tidak berdosa. Dengan keberadaan ini, manusia (dalam hal ini Adam) diciptakan dengan perangai kudus dan senantiasa merindukan Allah. Alkitab menyatakan bahwa setelah jatuh dalam dosa, manusia dilahirkan dengan kerinduan menjauh dari Allah. Dalam perkembangan selanjutnya baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa manusia lebih menuruti kehendak daging yaitu hidup dalam dosa, dimana manusia lebih banyak dikendalikan oleh kehendak pribadi dan tindakan yang bertolak belakang dengan kekudusan Allah yang pada dasarnya semua kehendak dan tindakan manusia lebih mengarah pada dosa. Allah menghendaki agar manusia tetap tinggal bersama dengan Dia, untuk itu Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal turun ke dunia untuk menebus manusia dari dosa dan mendamaikan hubungan manusia dengan Allah, sehingga manusia dapat kembali berhubungan dengan Allah. Ketika manusia mendengar kabar keselamatan kemudian bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi, manusia mendapat pengampunan, dalam arti kata manusia dikembalikan ke posisi semula yaitu manusia memiliki kekudusan dalam hidupnya karena dosa-dosa dan kesalahannya sudah dihapuskan. Dalam hal ini tidak berarti bahwa manusia dapat berbuat sekehendak hatinya atau bahkan bermalas-malasan. Tetapi ada tanggungjawab yang dituntut Allah supaya terus dikerjakan dalam hidup manusia yaitu hidup dalam kekudusan. Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:6: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. Implementasi dari ayat ini adalah dalam setiap segi kehidupan manusia yang pada dasarnya memiliki kehendak bebas adalah menyelaraskan hidupnya dengan kebenaran Firman Tuhan jika ingin terus dikenan oleh Allah. Yang menjadi pertanyaan adalah konsep kekudusan itu sendiri yang harus dikerjakan dalam kehidupan setiap orang percaya. KEKUDUSAN BERDASAR I PETRUS 1:16 A. Penjelasan I Petrus 1:16 Dalam buku Tafsir Alkitab Masa Kini III dikatakan bahwa surat I Petrus ditulis oleh penulis surat yang memperkenalkan diri sebagai ”Petrus, rasul Yesus Kristus” (I Petrus 1:1) dan saksi penderitaan Yesus Kristus (5:1). Surat ini ditulis pada tahun 63-64 M pada masa pemerintahan kaisar Nero, ditujukan kepada orang percaya yang berdiaspora, yaitu ”mereka yang terpilih” (I Petrus 1:1-2). Surat I Petrus ditulis sebagai jawaban terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang terpilih, berkenaan dengan kecurigaan dan cemoohan masyarakat serta ancaman akibat ketidaksenangan masyarakat ditambah tuduhan kaisar Nero. Situasi kondisi ini menjadikan orang yang terpilih hidup dalam bayang-bayang penindasan. Selain jawaban yang demikian surat I Petrus juga menegaskan supaya orang yang terpilih hidup sesuai dengan kehendak Kristus sebagai konsekwensi dari iman percaya mereka kepada Kristus. Caram menegaskan apa yang diungkapkan Petrus bahwa setiap orang yang percaya tidak boleh menyerah ketika dalam tekanan yang luar biasa, tetapi sebaliknya mendisiplin pikiran-pikiran dan berharap sampai akhir karena ada pencurahan kasih karunia (I Petrus 1:13). Dalam hal inilah surat I Petrus berusaha menyatakan bagaimana kebenaran-kebenaran yang berharga yang terdapat dalam kehidupan orang Kristen yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan setiap orang percaya dengan penuh ketaatan dalam segala keadaan sebagai etika dan moral menurut teladan kekudusan Allah yang telah memanggil mereka kepada-Nya (I Petrus 1:14). Berkhof menjelaskan, kata kudus berasal dari bahasa Ibrani quadash ( vAdq' ) artinya ”memotong” atau ”memisahkan”, dimana kata ini adalah yang paling dalam maknanya yang ditujukan kepada Allah. Kata ini bahasa Yunani hagios ( a[gioj ) artinya kekudusan. Pemahaman dasar dari kata ini adalah satu posisi atau hubungan yang ada antara Allah dengan orang-orang atau benda. Kalimat: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” dalam Alkitab dituliskan sebanyak empat kali. Dalam kitab Imamat kalimat ini selalu didahului oleh kalimat ”Allah berfirman”. Hal ini menunjukkan bahwa ada suatu tuntutan etika dan moral, dimana Allah menghendaki agar hati dan pikiran setiap orang percaya sepenuhnya dibersihkan dari kehidupan yang dipenuhi hawa nafsu, sesuai dengan apa yang diteladankan-Nya melalui kehidupan Kristus. Allah tidak menghendaki manusia berbuat dosa, Allah menghendaki supaya setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan sudah diampuni dosanya tidak tinggal diam atau bermalas-malasan menunggu datangnya anugerah. Tetapi setiap orang percaya harus mengerjakan keselamatan yang diterimanya dengan hidup kudus sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai bentuk tanggungjawab etika dan moral. Allah Yang Kudus tidaklah bisa berhubungan dengan apapun yang tidak kudus termasuk manusia. Hadiwijono mengatakan bahwa Allah menghukum setiap orang yang menghinakan kekudusan-Nya, Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya umat Allah adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah dari segala dosa dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allahnya. Tanpa hidup kudus tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus. Allah mau datang ke dunia dan menebus dosa untuk pengampunan manusia sehingga Allah dapat berhubungan dengan manusia. Setitik dosa sudah bisa menjadikan hubungan manusia dengan Allah tidak harmonis, karena itu Allah berkehendak supaya ciptaan-Nya tetap mengerjakan keselamatan dengan jalan hidup dalam kekudusan sehingga manusia tetap dapat berhubungan dengan Dia. B. Kekudusan Allah Istilah kudus dalam Perjanjian Lama sama dengan yang ada dalam Perjanjian Baru, dimana istilah kudus dipakai dipakai dalam pengertian yang tinggi, yang menunjuk kepada keterpisahan Allah dari ciptaan dan bahwa Allah mengungguli ciptaan itu. Berkhof mengatakan bahwa: Makna asli kekudusan Allah menunjukkan bahwa Allah itu mutlak berbeda dari segala makhluk ciptaan-Nya dan Allah ditinggikan jauh diatas manusia dalam kemuliaan yang tiada terbatas. Jadi dapat dipahami bahwa kekudusan Allah adalah atribut-Nya yang transendental yang merupakan kesempurnaan-Nya yang sentral dan paling tinggi. Lebih lanjut Berkhof mengatakan bahwa kekudusan Allah mempunyai aspek etis yang secara khusus lebih mengkaitkan manusia dalam hubungannya dengan Allah karenak kekudusan etis Allah berarti pemisahan dari kejahatan moral atau dosa. Dalam Perjajian Lama Allah membuat tuntutan-tuntutan moral yang keras Davidson menerangkan bahwa hakekatnya kekudusan Allah yang sebenar-benarnya mencakup kesempurnaan moral yang menerangi dengan jelas keberdosaan manusia. Salah satu alasan utama Allah membuat hukum Taurat melalui Musa adalah untuk menunjukkan kekudusan-Nya, ketika Allah menurunkan patokan moral yang sah, Allah membuktikan diri-Nya sebagai yang benar, bermoral dan kudus. Berkhof mengatakan: Definisi kekudusan Allah adalah kesempurnaan Allah, dimana Dia secara kekal berkehendak dan senantiasa menjaga kemuliaan moral-Nya, membenci dosa dan menuntut kemurnian dari makhluk-makhluk yang bermoral. Sedangkan manifestasi dari kekudusan Allah dinyatakan dalam hukum moral yang tertanam dalam hati manusia dan berbicara melalui hati nurani dan wahyu Allah. Segala aspek hukum itu dalam segala hal akan menanamkan pemahaman akan kekudusan Allah dan mendorong bangsa itu untuk menyadari perlunya hidup kudus. Disisi lain kekudusan Allah juga terlihat dari hukum korban-korban-Nya, ketika Allah memerintah untuk menyembelih binatang sebagai korban dan darahnya dicurahkan semua membuktikan bahwa kematian adalah akibat dosa, sementara Allah adalah kekal tidak pernah mati. Kekudusan Allah dibagian lain dalam Alkitab dicerminkan dalam peristiwa penghakiman terhadap dosa, Allah menghukum dosa karena Dia kudus. Pada bagian lain kekudusan Allah tercermin juga dalam peristiwa penyaliban Kristus yang menanggung doa manusia yang menggambarkan kebencian-Nya akan dosa, Allah hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada jaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan nyawa-Nya sendiri, itulah kekudusan Allah. C. Kudus: Atribut Allah yang ada pada manusia melalui pertobatan Makna dasar dari kata quadash ( vAdq' ) yaitu: menyendirikan dan cemerlang. Arti dari kata ini menekankan penggunaannya yang berkaitan dengan keadaan atau proses dalam Perjanjian Baru yang mengarah pada perubahan batin yang terjadi berangsur-angsur, yang menghasilkan kemurnian, kebenaran moral dan pemikiran suci yang menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan lahiriah yang baik dan menurut kehendak Tuhan. Makna dasar ini senada dengan kata metanoia ( meta,noia ) yang artinya perubahan hati atau perubahan niat atau pertobatan, kata ini berarti berpaling, mengubah segenap sikap hidup lalu memandang kepada Yesus, sehingga ada perubahan yang radikal dan terjadi terus menerus dalam kehidupan manusia. Istilah Alkitab mengatakan hal ini adalah kelahiran baru atau menjadi manusia baru yang berbeda dengan manusia sebelumnya, dalam hal ini terkandung pengertian pembaharuan bahwa manusia mati lepas dari dosa dan hidup bagi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dalam kekudusan. Thiessen mengatakan bahwa pertobatan meliputi tiga aspek, yaitu: pertama, unsur yang menyangkut pikiran, yaitu perubahan pandangan terhadap dosa, Allah dan diri sendiri. Dosa diakui sebagai kesalahan pribadi, Allah sebagai penuntut kebenaran dan diri sendiri sebagai yang sudah tercemar dan tidak berdaya. Kedua, unsur yang menyangkut perasaan hati, yaitu perubahan perasaan yang sedih (penyesalan) atas dosa dan mendambakan pengampunan, dan ketiga, unsur yang menyangkut kehendak yaitu perubahan kehendak untuk meninggalkan dosa untuk mendapatkan pengampunan dan pengudusan. Pengudusan adalah kasih karunia Allah, melalui kasih karunia itu orang percaya menjadi kudus serta mendapat kuasa untuk mengalahkan dosa. Allah berfirman kepada setiap orang percaya: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”, ini adalah sebuah perintah untuk menjadi kudus seperti Dia adalah kudus. Karena manusia tidak akan pernah dapat mencapai kekudusan itu dengan kekuatannya sendiri, Allah sudah menyediakan jalan supaya setiap manusia dapat dapat mentaati perintah itu, yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus yang telah membenarkan, menguduskan dan menebus kita. KONSEP KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN Berkhof mengatakan bahwa kekudusan Allah dinyatakan dalam hukum moral yang tertanam dalam hati manusia dan berbicara melalui hati nurani dan wahyu Allah. Semua aspek hukum itu menanamkan pemahaman akan kekudusan Allah dan mendorong manusia untuk menyadari perlunya hidup kudus. Allah berfirman kepada setiap orang percaya: ” Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”, ini adalah sebuah perintah untuk menjadi kudus seperti Dia adalah kudus. Seperti apa yang telah diuraikan dalam bab yang lalu bahwa kekudusan manusia diawali dengan adanya pertobatan sehingga ada kelahiran kembali. Kekudusan tidaklah dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri, tetapi Allah telah membuka jalan dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban tebusan bagi banyak orang. Manusia yang rindu hidupnya menjadi kudus haruslah terlibat secara pro-aktif dengan menyerahkan kehidupannya melalui pertobatan. Seseorang yang ingin hidup dalam kekudusan harus menyadari bahwa tabiat tubuh atau kedagingan tidak akan dikenan Allah. Manusia perlu mendapat hidup yang baru dan perubahan yang terjadi melalui kehidupan yang baru, Brill mengaskan bahwa dilahirkan kembali berarti menerima kodrat Illahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan pengantaraan Firman Allah, dimana dalam kelahiran kembali itu Allah memberikan perangai-Nya yang suci, berbudi, berfikir seperti Allah, berperasaan seperti Allah sehingga manusia hidup kudus. Ketika kita membicarakan pengudusan, tidaklah ini berarti bahwa orang yang beriman, bertobat dan mengalami kelahiran baru dia sudah kudus secara sempurna, sekali-kali tidak, oleh karena sering kali dalam hidup manusia terjadi pergumulan kehidupan yang menyebabkan iman yang naik turun yang berujung pada timbulnya dosa dalam kehidupan umat manusia. Hadiwijono mengatakan bahwa selain Allah berkarya menguduskan manusia, ada ayat lain yang menyatakan bahwa manusia juga harus menguduskan diri. Karena itu haruslah dipandang bahwa hidup baru adalah hidup yang berisikan ketaatan dan iman semata-mata sehingga hidup baru yaitu hidup dalam kekudusan haruslah dipandang sebagai hidup yang penuh tantangan dan pergumulan kehidupan. PENUTUP Allah menuntut manusia untuk hidup dalam kekudusan oleh karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan Allah. Kekudusan ini berdasarkan darah Kristus, tetapi selama orang Kristen masih tinggal di bumi maka dia masih berpotensi untuk berbuat dosa, oleh sebab itu setiap orang Kristen harus terus menyelaraskan sikap, perilaku hidup mereka kepada Firman Tuhan. Sebagai orang Kristen, hendaknya kita terus hidup dalam kekudusan Tuhan dengan jalan senantiasa menyelaraskan hidup kita dengan Firman Tuhan dalam hidup kita setiap hari sehingga hidup kita terus mengalami proses pembaharuan hari lepas hari sehingga menjadi manusia baru yang hidup dalam kekudusan Tuhan. Sadarilah bahwa apa yang kita lakukan tidaklah mulus, tetapi banyak halangan dan rintangan yang ada dihadapan kita. Tetaplah bersandar dan berharap kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga kehidupan kita menjadi sempurna seperti Dia juga adalah sempurna. DAFTAR PUSTAKA Arthur, John, Mac, JR., Prioritas Utama Dalam Penyembahan, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1994. Berkhof, Louis, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, Surabaya: Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature) Cetakan ke 8, 2009. Brill, Wesley, J., Dasar Yang Teguh, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993. Caram, Paul, G., Diteguhkan, Dikuatkan, Dikokohkan, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2001. Davidson, Robert, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK Gunung Mulia Cetakan Ke 3, 2001. Foster, Richard, J., Tertib Rohani: Sudahkah Anda Memilikinya?, Malang: Penerbit Gandum Mas, 1990. Hadiwijono, Harun, Dr, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia Cetakan Ke 3, 1982. Nitfrik, G.C. van, Dr., & Dr. B.J. Boland, Dogmatika Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981. Santosa, David, Iman, Dr, Theologi Yohanes: Intisari dan Aplikasinya, Malang: Literatur SAAT, 2005. Tenney, C, Meryll, Survey Perjanjian Baru, Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas Cetakan ke 6, 2001. Thiessen, Henry, Clarence, Teologi Sistematika, Malang, Penerbit Gandum Mas Cetakan Ke 6, 2003. Tim Penerjemah, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I (A-L), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 2000. Tim Penyusun, Tafsir Alkitab Masa Kini Jilid III: Matius – Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF Cetakan ke 13, 2003. Turner, J, Clyde, Pokok-pokok Kepercayaan Orang Kristen, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1978. Staf Redaksi, Jurnal Teologi STULOS volume 8 Nomor 1, Bandung: STT Bandung, 2009. Whitney, Donald, S., Disiplin Rohani: 10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen, Bandung: Lembaga Literatur Baptis (YBI) Cetakan Ke 4, 2001.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar